Cara Mudah Untuk Memaafkan Orang lain

Manusia diciptakan dalam keadaan bersih, baik bersih dari kesalahan kepada orang lain, maupun bersih dari bersalahnya orang lain terhadap kita. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia kita, “kebersihan-kebersihan” tersebut terus menjadi kotor kecuali jika kita berupaya untuk membersihkannya. Seiring dengan berjalannya waktu, kita semakin berhubungan dengan orang lain (selain diri kita sendiri), dimulai dari orang tua, orang-orang di keluarga, teman-teman, pacar, isteri, guru, dosen, klien, atasan, bawahan dan semua pihak yang kita temui dalam kehidupan. Namun dalam hubungan-hubungan yang kita ciptakan, tentunya terdapat banyak sekali kesalahan kita terhadap orang lain maupun kesalahan orang lain kepada kita.

Poin dalam artikel ini adalah memaafkan dan kepercayaan. Menurut saya, sebagai manusia biasa yang tidak pernah luput dari kesalahan, kita pasti meminta maaf kepada orang lain. Ada kesalahan yang kita sengaja (kita niatkan) dan ada kesalahan yang tidak kita sengaja (tidak kita niatkan). Hal ini berlaku juga kepada orang-orang selain diri kita, mereka sudah pasti memiliki kesalahan kepada kita. Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa kita harus mampu memaafkan orang lain, sebesar apapun kesalahan mereka.

Namun banyak orang-orang yang memaafkan orang lain namun sekaligus memberikan kembali kepercayaan kepadanya sehingga mereka “tertipu” atau “terjahatkan” kembali. Selanjutnya  ada juga orang yang tidak mampu memberikan maaf sedikitpun kepada orang lain sehingga hatinya tidak tentram sehingga gerak-geriknya dan proses berpikirnya  menjadi  terbatasi dengan hal-hal yang tidak perlu. Pada artikel ini, saya lebih berfokus kepada kesalah besar yang dilakukan oleh orang lain dengan sengaja.

Untuk mempermudah penyampaian, saya akan berbagi sedikit  pengalaman tentang seseorang yang telah melakukan kesalahan besar kepada keluarga saya. “Si bersalah”  ini juga merupakan keluarga saya yang sebenarnya sangat dekat dengan ayah dan ibu saya. Pada awalanya saya berat sekali untuk memaafkan mereka karena mereka telah menyakiti hati ayah dan ibu saya, bahkan keluarga saya yang lainnya. Namun agama saya (dan mungkin semua agama) mengatakan bahwa sebagai seorang manusia, kita harus saling memaafkan. Hal ini membuat saya terus berpikir tentang bagaimana cara memaafkan mereka. Menurut pengalaman saya, ciri-ciri bahwa saya telah memaafkan kesalahan  orang lain adalah hati saya tidak lagi sakit jika saya bertemu dengan mereka atau mengingat mereka  (mungkin pembaca juga mengalami hal yang sama). Namun berkat Ridha dari Yang Maha Kuasa, saya diberikan suatu cara atau pemikiran untuk memaafkan orang lain, khususnya yang telah sengaja melakukan kesalahan berat terhadap saya. Pemikiran dilandasi oleh sebuah kalimat yang hadir dalam pikiran saya, yaitu:

“semua kitab dan semua buku yang pernah saya baca yang berkenaan dengan hal ini selalu menyerukan agar kita mampu dan mau memaafkan kesalahan orang lain, akan tetapi tidak ada dalamnya (kitab dan buku-buku tersebut) yang menyerukan untuk mengembalikan kepercayaan kepada si bersalah, bahkan kita harus hati-hati sekali dalam memberikan kepercayaan kepada orang lain”.

Dari paragraf sebelumnya dapat disimpulkan bahwa agar mudah memaafkan orang lain (khususnya kesalah besar dan disengaja), kita harus terlebih dahulu mampu memisahkan antara memaafkan dengan mempercayai. Kita tetap harus memberikan maaf kepada orang-orang yang telah melakukan kesalahan besar kepada kita, namun mereka tetap harus diberikan hukuman yaitu berupa “penurunan tingkat kepercayaan” sesuai dengan besarnya kesalahan mereka dan sesuai dengan jenis kesalahan mereka (sengaja atau tidak sengaja).

Akhirnya saya tetap dapat memaafkan bahkan menyayangi saudara saya tersebut. Hal ini terbukti dengan apa yang saya rasakan di hati saya, begitu damai dan lapang (kecuali jika iman sedang dibawah). Saya mengingat kembali kebaikan-kebaikan dan kebersamaan dengan “si bersalah” itu di masa lalu dan hati saya benar-benar lapang serta tidak sakit. Namun saya tetap menghukum mereka dengan tidak melakukan komunikasi dalam bentuk apapun kepada “si bersalah” dan semoga mereka terus mengingat hal ini sehingga tidak mengulang kesalahan kepada orang lain. Hal ini adalah bentuk penurunan tingkat kepercayaan saya terhadap mereka sampai ke tingkat nol atau dalam kata lain saya tidak mempercayai mereka lagi.

Perlu diketahui bahwa kesalahan adalah suatu proses pembelajaran dalam kehidupan. Tidak ada seorang pun yang tidak melakukan kesalahan, bahkan saya sendiri pun juga pernah lebih dari satu kali melakukan kesalahan besar. Dengan demikian, setiap orang yang bersalah harus dihukum agar dia belajar dari kesalahannya.  Tujuan lainnya adalah agar dia tidak melakukan kesalahan serupa di kemudian hari kepada kita dan kepada orang lain.

Mungkin bagi pembaca akan lama sekali memahami apa yang saya tuliskan kali ini karena ini adalah soal pikiran dan perasaan. Namun tetap lah meminta petunjuk kepada Yang Maha Kuasa agar dapat memberikan kemudahan dalam mengatasi persoalan, khususnya dalam memaafkan kesalahan besar dan disengaja yang dilakukan oleh orang lain. Hati yang belum dapat memafkan orang lain adalah hati yang belum bersih. Hati yang belum bersih itu seperti komputer yang bervirus, dia akan memperlambat proses berpikir sehingga dapat memperlambat proses pemecahan masalah. Jika virusnya terlalu besar dan kuat sehingga tidak dapat ditanggulangi, komputer tidak dapat bekerja sa,a sekali atau mengerjakan sesuatu yang salah.

About these ads

Tentang berfikirkontroversial

dalam blog ini, saya akan banyak sekali mengemukakan pemikiran-pemikiran yang mungkin bertolak belakang dengan pemikiran-pemikiran yang umum. Tujuan saya adalah agar pembaca mulai mencoba berfikir kritis, terbuka dan berfikir dengan menggunakan sudut pandang dari berbagai arah. Dengan demikian, pembaca tidak tergoda dengan banyaknya tipuan-tipuan yang dianggap "biasa" dalam kehidupan.
Tulisan ini dipublikasikan di Kehidupan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Cara Mudah Untuk Memaafkan Orang lain

  1. Imam berkata:

    Benar sekali sama dngan apa yang kualami,,tetapi aku baru mau memaafkan jika bisnisku sudah lancar kembali,karena saudaraku telah menghancurkan bisnis keluargaku

  2. yah, seperti itu lah kenyataan Mas Imam. Oleh sebabnya dalam bisnis selalu ada perjanjian formal, inilah bentuk usaha suatu bisnis untuk meningkatkan kepercayaannya terhadap supplier maupun konsumennya. Boleh jadi saudara mas Imam adalah orang yang baik (saya tidak tahu), namun dia dihadapkan oleh situasi di luar kendalinya sehingga berbuat keburukan. Misalnya tuntutan hidup, paksaan dari orang lain, kekhilafan, dsb.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s